BERAU, kaltarastories.com – DPRD Kabupaten Berau menyoroti keterkaitan antara persoalan kemiskinan dan tingginya jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) yang dinilai perlu ditangani secara serius dan terintegrasi.
Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina, menyebut sektor pendidikan menjadi faktor penting dalam upaya menekan angka kemiskinan. Menurutnya, masih adanya anak yang tidak mengakses pendidikan berpotensi memperpanjang siklus kemiskinan.
“Kalau anak tidak sekolah, potensi kemiskinan bisa terus berulang di generasi berikutnya,” ujarnya.
Ia menilai, meski angka kemiskinan di Berau berada di kisaran 5 persen, kondisi tersebut tetap perlu mendapat perhatian. Pasalnya, persoalan tersebut berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Selain itu, Elita juga menyoroti jumlah ATS yang masih cukup tinggi. Ia mengakui adanya kendala dalam pendataan, terutama akibat mobilitas penduduk yang cukup dinamis di beberapa wilayah.
Namun demikian, ia menegaskan penanganan tidak boleh berhenti pada aspek administrasi. Pemerintah daerah harus memastikan anak-anak tersebut kembali mendapatkan akses pendidikan.
“Bukan hanya soal data, tapi bagaimana memastikan mereka kembali ke sekolah dan tidak terputus dari sistem pendidikan,” tegasnya.
Untuk itu, DPRD mendorong adanya koordinasi lintas sektor dalam penanganan ATS, melibatkan pemerintah daerah hingga tingkat kampung agar penelusuran dapat dilakukan lebih efektif.
DPRD Berau juga menyatakan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan di sektor pendidikan agar program penanganan ATS berjalan optimal dan berdampak nyata.
“Pendidikan menjadi kunci untuk memutus rantai kemiskinan. Ini harus menjadi perhatian bersama,” pungkasnya. (adv)




